Makin menjamurnya baby gym di wilayah Jakarta tak menciptakan Agni Pratistha ikut memasukkan putranya ke sana. Baby gym benar-benar menawari cara-cara stimulasi, maka anak dapat tumbuh & berkembang optimal serasi tahapan umur.
Walaupun pula Agni sudah mengetahui manfaat baby gym, beliau merasa memasukkan buah hatinya ke sana belum jadi prioritas.
“Banyak yg menawari baby gym, tetapi saya lebih pilih buat menstimulasi sendiri Rudra di rumah,” katanya terhadap Okezone, terhadap program peluncuran Johnson’s Active Fresh Shampoo, belum lama ini.
Ibu dari Rudra Arka Monoarfa ini lebih mengandalkan petunjuk dari portal video YouTube atau mencari info di buku-buku parenting buat menstimulasi putranya yg berumur sebelas bln.
Sekadar kabar, stimulasi teramat utama buat otak & mengembangkan potensi anak termasuk juga visual, auditori, kognisi, sosioemosional, pun keterampilan motorik kasar & halus. Stimulasi terhadap bayi sanggup dilakukan dgn trik pemijatan atau permainan.
Sumber : Okezone
Kamis, 28 Mei 2015
Perpaduan Gaya Hidup Remaja, Sastra, Fasilitas & Internet
Sastra bagi remaja perkotaan bukanlah sastra yg terwakili oleh para sastrawan dari generasi Putu Wijaya hingga Linda Christanty sekalipun. Sastra bagi remaja perkotaan serta bukanlah sastra koran, majalah sastra seperti Horison, ataupun jurnal-jurnal kebudayaan yg memuat cerpen, puisi, & esai-esai serius. Sastra remaja perkotaan ialah sastra pergaulan yg terekspresikan dalam medium-medium baru yg melekat kepada gaya hidup mereka. Sastra remaja perkotaan diwaktu ini merupakan sesuatu yg sama sekali terlepas dari mata rantai peristiwa sastra pada awal mulanya. Histori sastra yg aku tujuan yakni histori sastra resmi version para kritikus, teoritisi, akademisi & para sastrawan sendiri. Peristiwa sastra resmi ini sama halnya bersama histori terhadap kebanyakan yg berpihak terhadap kebutuhan kekuasaan tertentu bersama muatan subjektivitas yg pun kental di dalam historiografi-nya. Dalam konteks remaja perkotaan dengan cara riil, sebenarnya apa yg dinamakan mainstream sastra itu bahkan tak eksis. Ada gap yg teramat jauh antara sastra & kehidupan riil remaja perkotaan kini.
Medium-medium ekspresi kesusasteraan dalam lifestyle remaja perkotaan waktu ini kurang lebih adalah satu buah dekonstruksi pada medium ekspresi pada awal mulanya yg berjalan juga sebagai akibat dari perkembangan tehnologi. Pretensi posting suatu karya sastra tak lagi dilandasi oleh motivasi mimpi-mimpi akbar, ide-ide pemberontakan, ataupun pemikiran-pemikiran jenial utk mengubah dunia. Remaja perkotaan saat ini pass posting di blog mereka menyangkut hal-hal personal keseharian yg remeh-temeh, mengirim sms romantis terhadap pacarnya, atau membuat syair lagu cinta yg pula sederhana saja. Itulah medium-medium ekspresi sastra remaja perkotaan waktu ini. Di sudut lain para penulis generasi “tua” konsisten asyik dgn mimpi-mimpi, keyakinan, arogansi, & ide-ide gede utk melahirkan satu buah magnum opus dalam “sejarah” kepenulisan mereka. Tidak Dengan sadar, gap yg ada makin curam & dalam, mengingatkan kita kepada kritik-kritik berpuluh th silam berkenaan ivory tower-nya para sastrawan & seniman dengan cara total.
Pasti masalahnya memang lah tidak sanggup dilepaskan dari “nilai-nilai, kriteria, teori-teori” menyangkut apa yg dinamakan & dianggap sbg “sastra”. Faktor ini pula ialah persoalan lama yg tetap menggantung tidak dengan penyelesaian. Bagi banyaknya sastrawan, sebut contohnya Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono, atau Budi Darma, apa yg dinamakan & dianggap sbg “kriteria & nilai-nilai” sastra merupakan relatif & subjektif. Pandangan ini berikan area kebebasan yg luas buat mempunyai anggapan & menyebutkan apa itu karya sastra. Di lain pihak, ada banyak sastrawan & kritikus yg berpegang kepada teori-teori baku yg entah apa atau entah yg mana utk mengategorisasikan satu buah karya yang merupakan “sastra”. Pandangan inilah yg seterusnya mungkin saja menciptakan buku-buku semacam ensiklopedi sastra Indonesia tak sempat komplit & utuh. Di buku-buku itu tentu nya tak sempat ada nama Agni Amorita Dewi contohnya, penulis cerpen remaja generasi thn 80-an yg kerap isi lembar cerpen di bermacam macam majalah remaja & sempat pun jadi jagoan lomba cerber Femina. Di buku-buku itu tentu nya tak akan ada nama Raditya Dika atau Aditya Mulya, dua novelis jejaka musim saat ini yg penggemarnya tersebar di kalangan remaja perkotaan seluruhnya Indonesia. & di buku-buku itu pula tak sempat ada nama FX Rudy Gunawan, penulis cerpen, esai, & novel yg karya-karyanya pun kerap dimuat di sastra koran (Non-Kompas) & puluhan bukunya sudah diterbitkan.
Ini yakni suatu stagnansi yg ironis. Generasi remaja waktu ini merasa tak ada perlunya membaca karya sastra adiluhung yg tak connect bersama kehidupan riil mereka. Sudah berlangsung suatu perubahan paradigma yg tak sempat diantisipasi oleh para sastrawan. Acara sastra masuk sekolah kemungkinan yaitu suatu upaya yg sempat dilakukan buat menjembatani gap atau mencairkan stagnansi ini. Namun sebab frame yg diboyong yakni “mindset lama” & yg dilakukan dgn “cara lama” serta, sehingga dapat dikatakan upaya ini kurang menghasilkan hasil. Sebanyak SMA yg didatangi kemungkinan menjadi lebih mengenal sastrawan-sastrawan & karya-karyanya, tetapi cuma sebatas itulah akhirnya. Padahal yg dibutuhkan waktu ini yakni membuat generasi baru penggemar sastra & menumbuhkan iklim atau atmosfir yg subur bagi lahirnya generasi penulis sastra yg baru, segar, & sama sekali berlainan.
Dalam gaya hidup remaja perkotaan saat ini, film & musiklah yg paling ternama juga sebagai bidang dari kehidupan kesenian & kebudayaan mereka. Ini terbukti dari suksesnya novel-novel adaptasi film yg digagas & diterbitkan oleh penerbit spesialis novel remaja, GagasMedia. Nyaris seluruh novel adaptasi film-film nasional terjual puluhan ribu kopi dalam hitungan bln saja. Genre novel ini sudah sukses jadi bidang dari gaya hidup remaja perkotaan berkat kolaborasi antara dunia film & dunia sastra. Kolaborasi berarti satu buah persinggungan yg nyata dgn kehidupan. Kolaborasi jadi suatu pola buat mencairkan stagnansi & melahirkan karya yg “membumi”. Suatu sample kolaborasi ideal dari dunia musik merupakan kelompok rock gaek Santana yg berkolaborasi dgn penyanyi remaja popular dalam tiga album terakhir mereka yg dirilis sekian banyak thn belakangan. Kesadaran Santana yang merupakan kelompok yg melegenda buat terus tune in bersama perkembangan era sungguh suatu kerendahan hati yg layak diteladani di dunia sastra kita.
Sastra mestinya jadi bidang dari gaya hidup remaja perkotaan lantaran sastra mestinya jadi sektor dari kehidupan nyata termasuk juga kehidupan sehari-hari bersama segala tetek-bengek persoalannya yg bisa saja cengeng, menyebalkan, & tak kualitas. Namun atas basic apa seorang berwenang men-judge seperti itu pada kenyataan hidup yg nyata? Atas basic apa seorang atau sebanyak orang mempunyai wewenang menghakimi suatu karya? Ga Ada satu basic juga yg dapat membenarkan sikap-sikap seperti itu. Sebaliknya, justru abrasi kepada sikap-sikap seperti inilah yg bakal sanggup mengintegrasikan sastra dalam gaya hidup remaja perkotaan.
Gaya Hidup Remaja & Alat
Seluruhnya tipe alat, baik itu Internet, tv, film, musik, ataupun majalah, berpengaruh gede pada gaya hidup kita periode sekarang. Rata-rata alat menginformasikan mengenai pola hidup remaja kota, yg notabene meniru gaya hidup modis. Sehingga, tak heran bila kita digiring jadi amat konsumtif.
Musim remaja merupakan periode pencarian identitas. Kita yang merupakan remaja sejak mulai mencari gaya hidup yg serasi & pas dgn selera. Kita pun mulai sejak mencari satu orang favorit atau tokoh identifikasi yg sanggup dijadikan panutan, baik dalam pencarian gaya hidup, gaya berbicara, tampilan, & lain-lain. Imbasnya tidak sedikit kita jumpai rekan-rekan bersama beragam atributnya yg sebenarnya mereka cuma meniru-niru saja. Sadar tak sih seandainya sekarang ini sangat banyak sinetron remaja yg menawari life style baru? Para bintang bujang yg digandrungi nyata-nyatanya dapat mengubah style remaja.
Kepada periode remaja pengaruh favorit memang lah teramat kuat. Favorite atau tokoh dapat mengendalikan hidup kita yg kemungkinan tidak dengan kita sadari. Nah, di sinilah alat
Tapi, apakah benar bahwa sarana sedemikian tidak baik pengaruhnya bagi remaja? Sebenarnya tak seratus % begitu. Factor ini jadi tantangan bagi kita utk memilah-milah atau selektif kepada pesan yg di sampaikan oleh sarana. Sebab, tak sanggup dimungkiri bahwa keberadaan alat utama difungsikan. Sebab, kepada sebuah sudut fasilitas mengijinkan kita buat tahu beraneka ragam berita, kabar, penemuan, & hal-hal baru. Atau mampu disimpulkan bahwa sebenarnya hadirnya sarana berpengaruh positif & pula negatif.
Keberadaan alat benar-benar tak lepas dari keperluan pasar. Bersama begitu, jika kita tak selektif pada pesan alat, kita dapat jadi korban fasilitas. tak salah memang lah saat kita membeli satu buah product berdasarkan berita dari sarana. Tetapi, yg butuh diingat, seberapa butuh product yg kita beli itu bagi diri kita. Apakah kita memang lah membutuhkan product itu ataukah lantaran kita terpengaruh oleh iming-iming yg di sampaikan oleh sarana.
Remaja : Jangan Sampai memaksakan diri
tak ada salahnya memang lah utk tampil menarik seperti yg tidak sedikit diiklankan di fasilitas, dgn sebahagian product yg ditawarkan utk mempermudah wujudkan yang diimpikan itu. Pula ialah sesuatu yg wajar buat bertolak berbelanja membeli banyak-barang ketertarikan. Tetapi, yg harus kita ingat, jangan sampai memaksakan diri. Bila kita ikuti perkembangan mode baju, contohnya, apabila tak layak, ya tak usah dibeli, sebaiknya kita sesuaikan bersama diri kita. Singkatnya sih tak mesti mengikuti tren yg ada, namun yg utama nyaman di badan kita. Pokoknya yg utama kita yakin diri, nyaman dgn diri sendiri, menerima apa adanya, love yourself. Bahkan, dapat lebih oke lagi bila kita sanggup menunjukkan kelebihan-kelebihan kita lainnya.
Nah, jelaskan? Alat memang lah punyai efek positif & negatif. Kita mesti arif menyikapinya. Trick mudah merupakan mengenali diri kita sendiri & mengenali apa yg menurut kita teramat mutlak. Mengenali apa yg kita sukai, apa yg dapat kita toleransi dari orang lain & hal-hal yg menciptakan kita merasa mantap. Seandainya sesudah kita renungkan seluruh tidak serupa dari apa yg benar version sarana, itu artinya kita mesti langsung ambil strategi. So, jangan sampai menelan dengan cara mentah-mentah apa yg diinformasikan sarana maka tak demikian saja jadi korban fasilitas.
Sumber : ubb
Medium-medium ekspresi kesusasteraan dalam lifestyle remaja perkotaan waktu ini kurang lebih adalah satu buah dekonstruksi pada medium ekspresi pada awal mulanya yg berjalan juga sebagai akibat dari perkembangan tehnologi. Pretensi posting suatu karya sastra tak lagi dilandasi oleh motivasi mimpi-mimpi akbar, ide-ide pemberontakan, ataupun pemikiran-pemikiran jenial utk mengubah dunia. Remaja perkotaan saat ini pass posting di blog mereka menyangkut hal-hal personal keseharian yg remeh-temeh, mengirim sms romantis terhadap pacarnya, atau membuat syair lagu cinta yg pula sederhana saja. Itulah medium-medium ekspresi sastra remaja perkotaan waktu ini. Di sudut lain para penulis generasi “tua” konsisten asyik dgn mimpi-mimpi, keyakinan, arogansi, & ide-ide gede utk melahirkan satu buah magnum opus dalam “sejarah” kepenulisan mereka. Tidak Dengan sadar, gap yg ada makin curam & dalam, mengingatkan kita kepada kritik-kritik berpuluh th silam berkenaan ivory tower-nya para sastrawan & seniman dengan cara total.
Pasti masalahnya memang lah tidak sanggup dilepaskan dari “nilai-nilai, kriteria, teori-teori” menyangkut apa yg dinamakan & dianggap sbg “sastra”. Faktor ini pula ialah persoalan lama yg tetap menggantung tidak dengan penyelesaian. Bagi banyaknya sastrawan, sebut contohnya Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono, atau Budi Darma, apa yg dinamakan & dianggap sbg “kriteria & nilai-nilai” sastra merupakan relatif & subjektif. Pandangan ini berikan area kebebasan yg luas buat mempunyai anggapan & menyebutkan apa itu karya sastra. Di lain pihak, ada banyak sastrawan & kritikus yg berpegang kepada teori-teori baku yg entah apa atau entah yg mana utk mengategorisasikan satu buah karya yang merupakan “sastra”. Pandangan inilah yg seterusnya mungkin saja menciptakan buku-buku semacam ensiklopedi sastra Indonesia tak sempat komplit & utuh. Di buku-buku itu tentu nya tak sempat ada nama Agni Amorita Dewi contohnya, penulis cerpen remaja generasi thn 80-an yg kerap isi lembar cerpen di bermacam macam majalah remaja & sempat pun jadi jagoan lomba cerber Femina. Di buku-buku itu tentu nya tak akan ada nama Raditya Dika atau Aditya Mulya, dua novelis jejaka musim saat ini yg penggemarnya tersebar di kalangan remaja perkotaan seluruhnya Indonesia. & di buku-buku itu pula tak sempat ada nama FX Rudy Gunawan, penulis cerpen, esai, & novel yg karya-karyanya pun kerap dimuat di sastra koran (Non-Kompas) & puluhan bukunya sudah diterbitkan.
Ini yakni suatu stagnansi yg ironis. Generasi remaja waktu ini merasa tak ada perlunya membaca karya sastra adiluhung yg tak connect bersama kehidupan riil mereka. Sudah berlangsung suatu perubahan paradigma yg tak sempat diantisipasi oleh para sastrawan. Acara sastra masuk sekolah kemungkinan yaitu suatu upaya yg sempat dilakukan buat menjembatani gap atau mencairkan stagnansi ini. Namun sebab frame yg diboyong yakni “mindset lama” & yg dilakukan dgn “cara lama” serta, sehingga dapat dikatakan upaya ini kurang menghasilkan hasil. Sebanyak SMA yg didatangi kemungkinan menjadi lebih mengenal sastrawan-sastrawan & karya-karyanya, tetapi cuma sebatas itulah akhirnya. Padahal yg dibutuhkan waktu ini yakni membuat generasi baru penggemar sastra & menumbuhkan iklim atau atmosfir yg subur bagi lahirnya generasi penulis sastra yg baru, segar, & sama sekali berlainan.
Dalam gaya hidup remaja perkotaan saat ini, film & musiklah yg paling ternama juga sebagai bidang dari kehidupan kesenian & kebudayaan mereka. Ini terbukti dari suksesnya novel-novel adaptasi film yg digagas & diterbitkan oleh penerbit spesialis novel remaja, GagasMedia. Nyaris seluruh novel adaptasi film-film nasional terjual puluhan ribu kopi dalam hitungan bln saja. Genre novel ini sudah sukses jadi bidang dari gaya hidup remaja perkotaan berkat kolaborasi antara dunia film & dunia sastra. Kolaborasi berarti satu buah persinggungan yg nyata dgn kehidupan. Kolaborasi jadi suatu pola buat mencairkan stagnansi & melahirkan karya yg “membumi”. Suatu sample kolaborasi ideal dari dunia musik merupakan kelompok rock gaek Santana yg berkolaborasi dgn penyanyi remaja popular dalam tiga album terakhir mereka yg dirilis sekian banyak thn belakangan. Kesadaran Santana yang merupakan kelompok yg melegenda buat terus tune in bersama perkembangan era sungguh suatu kerendahan hati yg layak diteladani di dunia sastra kita.
Sastra mestinya jadi bidang dari gaya hidup remaja perkotaan lantaran sastra mestinya jadi sektor dari kehidupan nyata termasuk juga kehidupan sehari-hari bersama segala tetek-bengek persoalannya yg bisa saja cengeng, menyebalkan, & tak kualitas. Namun atas basic apa seorang berwenang men-judge seperti itu pada kenyataan hidup yg nyata? Atas basic apa seorang atau sebanyak orang mempunyai wewenang menghakimi suatu karya? Ga Ada satu basic juga yg dapat membenarkan sikap-sikap seperti itu. Sebaliknya, justru abrasi kepada sikap-sikap seperti inilah yg bakal sanggup mengintegrasikan sastra dalam gaya hidup remaja perkotaan.
Gaya Hidup Remaja & Alat
Seluruhnya tipe alat, baik itu Internet, tv, film, musik, ataupun majalah, berpengaruh gede pada gaya hidup kita periode sekarang. Rata-rata alat menginformasikan mengenai pola hidup remaja kota, yg notabene meniru gaya hidup modis. Sehingga, tak heran bila kita digiring jadi amat konsumtif.
Musim remaja merupakan periode pencarian identitas. Kita yang merupakan remaja sejak mulai mencari gaya hidup yg serasi & pas dgn selera. Kita pun mulai sejak mencari satu orang favorit atau tokoh identifikasi yg sanggup dijadikan panutan, baik dalam pencarian gaya hidup, gaya berbicara, tampilan, & lain-lain. Imbasnya tidak sedikit kita jumpai rekan-rekan bersama beragam atributnya yg sebenarnya mereka cuma meniru-niru saja. Sadar tak sih seandainya sekarang ini sangat banyak sinetron remaja yg menawari life style baru? Para bintang bujang yg digandrungi nyata-nyatanya dapat mengubah style remaja.
Kepada periode remaja pengaruh favorit memang lah teramat kuat. Favorite atau tokoh dapat mengendalikan hidup kita yg kemungkinan tidak dengan kita sadari. Nah, di sinilah alat
Tapi, apakah benar bahwa sarana sedemikian tidak baik pengaruhnya bagi remaja? Sebenarnya tak seratus % begitu. Factor ini jadi tantangan bagi kita utk memilah-milah atau selektif kepada pesan yg di sampaikan oleh sarana. Sebab, tak sanggup dimungkiri bahwa keberadaan alat utama difungsikan. Sebab, kepada sebuah sudut fasilitas mengijinkan kita buat tahu beraneka ragam berita, kabar, penemuan, & hal-hal baru. Atau mampu disimpulkan bahwa sebenarnya hadirnya sarana berpengaruh positif & pula negatif.
Keberadaan alat benar-benar tak lepas dari keperluan pasar. Bersama begitu, jika kita tak selektif pada pesan alat, kita dapat jadi korban fasilitas. tak salah memang lah saat kita membeli satu buah product berdasarkan berita dari sarana. Tetapi, yg butuh diingat, seberapa butuh product yg kita beli itu bagi diri kita. Apakah kita memang lah membutuhkan product itu ataukah lantaran kita terpengaruh oleh iming-iming yg di sampaikan oleh sarana.
Remaja : Jangan Sampai memaksakan diri
tak ada salahnya memang lah utk tampil menarik seperti yg tidak sedikit diiklankan di fasilitas, dgn sebahagian product yg ditawarkan utk mempermudah wujudkan yang diimpikan itu. Pula ialah sesuatu yg wajar buat bertolak berbelanja membeli banyak-barang ketertarikan. Tetapi, yg harus kita ingat, jangan sampai memaksakan diri. Bila kita ikuti perkembangan mode baju, contohnya, apabila tak layak, ya tak usah dibeli, sebaiknya kita sesuaikan bersama diri kita. Singkatnya sih tak mesti mengikuti tren yg ada, namun yg utama nyaman di badan kita. Pokoknya yg utama kita yakin diri, nyaman dgn diri sendiri, menerima apa adanya, love yourself. Bahkan, dapat lebih oke lagi bila kita sanggup menunjukkan kelebihan-kelebihan kita lainnya.
Nah, jelaskan? Alat memang lah punyai efek positif & negatif. Kita mesti arif menyikapinya. Trick mudah merupakan mengenali diri kita sendiri & mengenali apa yg menurut kita teramat mutlak. Mengenali apa yg kita sukai, apa yg dapat kita toleransi dari orang lain & hal-hal yg menciptakan kita merasa mantap. Seandainya sesudah kita renungkan seluruh tidak serupa dari apa yg benar version sarana, itu artinya kita mesti langsung ambil strategi. So, jangan sampai menelan dengan cara mentah-mentah apa yg diinformasikan sarana maka tak demikian saja jadi korban fasilitas.
Sumber : ubb
Langganan:
Postingan (Atom)